Langsung ke konten utama

Aliran Rasa Kelas Komunikasi Produktif


Tantangan 10 Hari Kelas Komunikasi Produktif telah rampung. Alhamdulillah bisa diselesaikan tepat waktu walaupun mulainya agak telat karena salah perhitungan. Human error…ntar sok..ntar sok..merasa waktu yang diberikan lama, jadi menunda-nunda.  Tak terasa waktu terus berjalan dan akhirnya blingsatan, waktu sudah mepet banget, telat setor bisa-bisa ga capai target. Akhirnya setiap hari mengobservasi komunikasi di keluarga dan juga mencoba mempraktekkan ilmu yang diberikan di kelas komunikasi produktif. Alhamdulillah target tercapai…

Sepuluh hari tantangan….Setiap hari saya mengamati gaya komunikasi anggota keluarga di rumah, gaya komunikasi saya dengan suami dan juga anak. Ya Allah…banyak sekali PR yang harus diperbaiki..Jadi intropeksi diri, selama ini gaya komunikasi saya ternyata jauh dari ideal…Malu (tutup muka), karena kasih sayang Allah maka aib ini terjaga. Karena kasih sayang Allah juga, suami dan putri kami bertahan dengan gaya komunikasi kami. Karena kami tahu, walau gaya komunikasi kami begitu, kami saling menyayangi dan mencintai.

Komunikasi dengan Pasangan

Sudah beberapa tahun ini, komunikasi saya dan suami sudah membaik, tidak seperti awal-awal menikah. Ketika masa-masa itu, kami sama-sama keras kepala dan sama-sama tidak mau mengalah.Urusan sepale bisa menjadi besar, apalagi urusan besar. Alhamdulillah seiring dengan waktu, kami sama-sama belajar dan memahami karakter masing-masing. Ketidaksamaan persepsi antara saya dan suami sering terjadi, namanya juga dua orang manusia dari dua latar belakang keluarga yang berbeda tentu hasilnya beda. Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) kami sering bersebrangan, namun dari pengalaman hidup bersama kami sama-sama belajar bagaimana bersikap ketika kami bersebrangan. Berdialog…berdiskusi..baik langsung maupun tulisan melalui sms atau whatsapp.

Suami saya tipe pendiam, ketika tidak suka maka dia akan diam. Kalaupun bicara ya melalui sms atau whatsapp, diskusi dan dialog dilakukan melalui itu. Sebagai istrinya tentu harus super peka, agar keharmonisan tetap terjaga. Lain suami lain pula istrinya,  kalau istrinya tidak suka dikit langsung ngomong, ga bisa dipendam lama-lama. Biasanya saya mencoba mencari waktu yang pas untuk mengutarakannya, biar ditanggapi dengan baik. Saat menjelang tidur, atau pas suami lagi main gadget.Biasanya suasana hatinya sedang relaks, waktu yang pas untuk masuk mengajak diskusi tentang banyak hal terutama tentang anak.

Belajar di kelas komunikasi produktif jadi memahami macam-macam transaksi komunikasi. Jadi menganalisa bagaimana transaksional komunikasi kami, kadang terjadi transaksi komplemter (transaksi terbaik dalam komunikasi) kadang transaksi silang (komuniasi tidak mendapat respon sewajarnya), tergantung situasi dan kondisi. Kalau lagi mood baik, maka transaksi komplemter yang terjadi. Kalau lagi ga mood, karena faktor lelah maka transaksi silang yang terjadi biasanya suasana jadi tambah ga enak..jadi runyam. Dari sini, saya pribadi jadi belajar, kalau mau suasana yang manis terus maka transaksi komplementer harus dikembangkan. Di sini saya belajar menekan ego, mencoba mengedepankan rasio dan bersikap dewasa. Ketika bisa melakukannya, ada rasa senang, puas karena bisa mengatasi ego sendiri. Ini hal yang baik yang harus sering dipraktekkan agar menjadi sebuah kebiasan, semoga anggota keluarga yang lain ikut merasakan dan mau mempraktekkan juga. Harapannya suami dan anak juga terbiasa dengan jenis transaksi ini.. Kalau terus seperti itu, Insya Allah suasana di rumah akan harmonis, aman dan terkendali. Aamiin…

Komunikasi dengan Anak

Putri saya, orang yang paling sering berinteraksi dengan saya hampir 24 jam. Dimanapun ada saya , maka dia ada..ngintil terus…engga juga sih  kalau ada orang lain yang bisa dititipin dia mau dititipin. Dia anaknya supel dan mudah beradaptasi juga mandiri.

Putri saya anaknya ceria, aktif, penyayang, perhatian, dan sensitive. Kalau ada yang berbicara agak keras atau menyinggung hatinya maka dia akan merasa sedih dan kecewa.Dia orangnya berani mengungkapkan isi hatinya, beda dengan ibu dan bapaknya. Kalau orang tuanya mah, lihat situasi dan kedekatan dengan orang. Kalau ga deket banget mah, telen sendiri saja, daripada membuat keributan atau luka/masalah baru.

Saat mengobservasi dan menganalisa bagaimana gaya dia berkomunikasi, saya kadang melihat kok kayak saya atau ayahnya yang ngomong. Sepertinya dia mengamati dan meniru apa yang kami katakan dan lakukan. Kami jadi intropeksi diri, subhanallah….komunikasi kami dengan anak masih banyak PRnya…walau ada beberapa ilmu yang sudah kami pelajari, namun untuk prakteknya kami belum bisa.  Masih harus banyak-banyak belajar dan bersabar, terutama saat anak susah untuk diberi penjelasan, atau diminta tolong.

Seperti kasus suatu siang, saat saya minta tolong diambilin pulpen. Ibunya lagi repot di kamar.
B :” nak boleh tolong ambilkan pulpen?”
D : #cuek, tidak menyahut
B : ” Diara kemana ya? Bunda minta tolong ambilin pulpen, ga ditanggapin #nyindir
D : # tetap cuek, tidak ada suara apalagi bawain pulpen
B :” Nak, tolong ya? # suara udah naik sedikit
D : #tetap ga nyamper
B : “Dalam hitungan 3, ambilkan pulpen! Kata perintah akhirnya keluar”
D : “Iya bunda”,  langsung datang bawa pulpen

Biasanya bila terjadi seperti itu, saya akan langsung tegur Diara saat itu juga.Kalau tanda-tanda tidak didengarkan, biasanya saya peluk dia dan nada suara pelan menasehatinya.  

Hal yang sama juga saya lakukan ketika menghadapi Diara yang sedang marah-marah, emosi 
karena keinginannya tidak dipenuhi. Kadang saya suka tersulut emosi, suka ikut-ikutan naik. Kalau lagi mood baik, biasanya langsung istigfar dan menurunkan suara. Saya coba peluk dia, ini cara yang efektif kalau Diara lagi marah.Saya ajak bicara baik-baik, ditanya maunya apa dan coba cari solusinya. Namun, kalau mood saya sedang kurang baik, suka agak lama. Saya kadang suka ikut-ikutan naik suaranya, akhirnya keluar kata-kata time out, kalau nangis silahkan di kamar atau di pojok, saya tidak segera memeluknya. Diara paling tidak suka time out atau nangis dipojokan, mungkin merasa terasing. Biasanya dia akan diam, ketika dia diam emosi saya turun dan langsung meluk dia sambil bicara pelan-pelan. Sebisa mungkin, persoalan diantara kami clear, harus saling minta maaf. Karena itu, Diara terbiasa meminta maaf jika dia berbuat salah, dan juga menuntut maaf kalau orang lain berbuat salah.

Dengan ilmu yang diperoleh di kelas komunikasi dan juga observasi selama sepuluh hari, saya jadi belajar banyak dalam menghadapi anak. Harus banyak sabar dalam berinteraksi dengan putri kecil kami, terutama saat gesekan terjadi antara saya dan dia. Saya harus bisa menahan diri untuk tidak emosi. Dalam mengungkapkan perasaaannya, dia paket komplet. Dia suka akan pujian dan kata-kata mendukung, dia juga belaian dan pelukan, bermain bersama dan beraktivitas bersama adalah favoritnya, terkadang dia juga suka pelayanan apalagi ketika dia sakit.

Hikmah yang didapat setelah mengikuti #tantangan10hari Komunikasi Produktif dan menuangkannya dalam tulisan :
  1. Menjadi intropeksi diri apakah sudah produktif komunikasi di keluarga kami
  2. Memandang perlu mengadakan forum keluarga diadakan sesering mungkin, untuk saling mengalirkan rasa, mengalirkan ide dan curhatan juga sarana dialog dan diskusi
  3. Senantiasa berpikir untuk mengambil hikmah dari setiap peristiwa dan kejadian yang kami alami setiap harinya
  4. Tidak hanya senang dengan keberhasilan namun juga merasakan pahitnya kegagalan dalam hal berkomunikasi, yang pada hari biasanya, tanpa menuliskannya pun akan terlewati begitu saja.
  5. Membuat pola atau kebiasaan yang akan sering kita lakukan.
Badge tanda keberhasilan  menyelesaikan #tantangan10hari Komunikasi Produktif

  


Sekian aliran rasa yang saya alami. Semoga bermanfaat.
Salam hangat,

Nurul Narulitasari 
Ibu yang sedang belajar mengungkapkan ide dan rasa dalam tulisan


Postingan populer dari blog ini

Membuat Tujuan Smart

Bagaimana rasanya jika kita berjalan tanpa tujuan ? Bingung pastinya ya?  Tidak jelas target yang ingin dituju, tidak tahu apa yang diinginkan yang ada hanya membuang-buang waktu dan tenaga. Tentu kita tidak ingin mengalaminya bukan? Karena itu dalam melakukan suatu aktivitas atau kegiatan, ada baiknya kita memiliki tujuan terutama tujuan yang SMART. Tujuan SMART? Sudah pernah dengar dengan istilah itu? Kalau belum mari merapat, kita belajar sama-sama. Kebetulan kita lagi belajar membuat tujuan SMART untuk program yang akan Tim Bunda Piara usung. Apa  itu tujuan SMART? Tujuan yang disusun dengan metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant dan Time-based). Setiap elemen kerangka kerja SMART bekerja sama untuk menciptakan tujuan yang direncanakan dengan cermat, jelas, dan  terukur. Metode ini dipopulerkan oleh George T. Doran sejak tahun 1981. Metode ini menggunakan kerangka sasaran SMART dalam menetapkan batasan dan menentukan langkah-langkah yang perlu diambi...

Menjemput Rezeki dengan Ikhtiar yang Mulia

Malam ini kami isi membaca kisah nyata yang dialami teman bunda saat bertemu dengan dua orang anak usia prebaligh yang mengemis dengan cara ngesot. Saat ditanya uang hasil mengemis untuk apa, mereka menjawabnya untuk jajan. Mendengar semua itu, teman bunda menawarkan memberikan pekerjaan yang tidak berat hanya bungkus-bungkus dengan durasi dua jam. Mereka nanti dibayar Rp. 50.000, uang transport diganti dan juga akan diberi makanan. Sehingga uang honornya bisa ditabung untuk keperluan lain. Tanpa berpikir lama, mereka menjawab tidak mau. Malas kalau harus bekerja dulu, mereka lebih memilih mengemis saja.  Tujuan Bunda membacakan kisah ini adalah ingin melihat reaksi Little Di bagaimana? Bagaimana pendapatnya. Little Di berpendapat tidak baik mengemis seperti itu, lebih baik bekerja untuk mendapatkan uang. Alhamdulillah dia telah bisa menilai mana yang baik dan mana yang kurang baik. Minimal dia paham konsep mengemis itu tidak baik, bekerja lebih baik. Walaupun rezeki man...

Scale Up Impact

MasyaAllah tiba di penghujung kelas Bunda Shaliha. Puji syukur alhamdulillah, saya bisa meneruskan sampai tahap ini. Sebuah pencapaian luar biasa, dengan izin Allah bisa melalui tahapan-tahapan di Bunda Shaliha.  Materi 8 semacam refleksi mengikuti Kelas Bunda Shaliha, sementara tugas yang harus dilakukan adalah membuat video perjalanan tim dan penilaian terhadap diri apakah sudah pantas lulus kelas Bunda Shaliha. Tugas pertama perjalanan tim Bunda Piara, maka kita flash back terlebih dahulu ke awal mula pembentukan tim. Diawali dengan menentukan problem statemen yang sedang dialami. Setelah itu mencari tim dengan cara membuat video kampanye yang tujuannya open recruitmen tim. Alhamdulillah, dari iklan yang dilakukan ada 5 orang yang tertarik. Namun dua diantaranya mengundurkan diri karena beberapa pertimbangan. Dari tiga anggota tim, satu diantaranya berasal dari mahasiswi Bunda Shaliha, dan dua diantaranya member Ibu Profesional. Bersama tim kami lalu menentukan problem statemen ...