Tantangan sepuluh hari game Level 5 sangat menarik dan menantang, mengapa? Jujur ini agak berat bagi kami yang belum terbiasa membaca buku secara rutin. Keluarga kami suka membaca tapi kami lebih menyukai kegiatan menonton karena lebih menarik, gambar bisa bergerak dan bersuara. Menyadari tontonan saat ini lebih banyak mudharatnya, kami mulai membatasi tontonan terutama untuk putri kami. Alhamdulillah putri kami bisa diajak bekerja sama, dia mau dialihkan untuk bermain yang lain atau kegiatan membaca. Sekarang kegiatan menonton hanya dilakukan di akhir pekan melalui internet seizin kami dengan durasi yang dibatasi.
Pada tantangan kali ini, kami merencanakan akan
membaca buku tentang Islam dan materi umum bisa berupa hard copy atau digital. Pelaksanaanya
buku hardcopy yang berhasil kami baca
hanya sedikit dibawah 10 buku dengan rincian Diara (8 buku), bunda ( 3 buku) dan ayah (0). Selebihnya
sumber yang kami baca berbentuk digital, terutama Ayah yang lebih menyukai
membaca dari sumber digital. Kegiatan membaca yang biasa saya dan Diara lakukan
yaitu di pagi hari, menjelang tidur siang dan malam. Ayah Diara hanya bisa
mendampingi saat menjelang tidur malam atau weekend. Kegiatan membaca pribadi
saya dan suami dilakukan di siang hari saat
luang dan malam setelah membaca buku untuk Diara.
Bagaimana tantangan level ini berlangsung setiap harinya?
Rasanya nano-nano terutama untuk Ayah dan Bundanya, kami keteteran mengatur waktunya. Ditambah lagi tantangan ini dilakukan di bulan Ramadhan, kami memiliki targetan tilawah yang ingin dicapai. Jadilah selama sebulan kemarin saya hanya sanggup membaca tiga buku yang tipis-tipis dan bahasannya menarik. Apa kabar kalau bukunya tebal dan isinya boring, mungkin sudah balik kanan sejak baca pendahuluannya. Begitu pun dengan suami, beliau give up, “Enggak bisa Bun, waktunya enggak memungkinkan kalau baca buku. Ayah mah baca dari internet saja ya?” Baiklah tidak apa-apa, bertahap saja semoga ke depannya bisa baca buku.
Cerita putri kami pun tidak jauh berbeda, dia sangat menikmati tontonan. Alasan itu yang membuat kami tegas mengatur kegiatan menonton.Kami dekatkan dia dengan buku sejak kecil.Kami bacakan buku cerita, terutama menjelang waktu tidur. Alhamdulillah Diara pun menunjukkan minatnya terhadap buku, dia bisa anteng dengan buku walau hanya mengamati gambarnya karena belum bisa membaca.
Proses belajar membaca Diara sangat bertahap melalui proses yang panjang dan waktu yang lama. Saya dan suami memegang prinsip tidak ingin mengajarkan calistung terlalu dini. Sejak Diara masuk playgroup, Sekolah Taman Kanak-Kanak A dan B kami telah menyampaikan ke wali kelasnya untuk tidak memaksakan Diara belajar calistung. Kami tidak memasukkannya ke tempat les baca. Saya merasakan prosesnya Diara belajar membaca, mulai dia mengenal huruf, suku kata, kata terbuka, kata tertutup, kalimat sederhana, paragraph, dan akhirnya satu buku bergambar dengan tulisan besar-besar. Kemampuan yang terakhir ini merupakan pencapaian Diara baru-baru ini di usia 6 tahun menjelang 7 tahun.
Pada level 5 ini, untuk Diara kami ingin melatih kegiatan membaca buku secara aktif (Active Learning). Ternyata ini memerlukan effort yang tinggi, putri kami lebih menyukai dibacakan buku daripada membaca sendiri, menurutnya lebih seru. Beberapa kali diajak membaca buku responnya ogah-ogahan. Baru mau membaca buku jika bersama dengan temannya, atau dia bacakan keras seakan-akan sedang membacakan buku kepada adiknya ( bunda pura-pura jadi adiknya). Selesai kegiatan membaca, kami adakan tanya jawab, menceritakan kembali atau membuat cerita bergambar. Tujuannya ingin mengetahui sejauh mana pemahamannya terhadap apa yang dia baca.
Bagaimana
dengan Pohon literasi ?
Pohon literasi kami proses pembuatannya lama, banyak
kendala yang menghambat pembuatanya seperti bahan tidak tersedia di rumah,
pengerjaan yang kemalaman dan sebagainya. Alhamdulillah setelah mendapat bala
bantuan dari saudara sepupu, pohon literasi keluarga kami rampung juga. Diara
semangat sekali dalam menuliskan buku yang telah dibaca di atas kertas origami
yang telah dibentuk seperti daun, kemudian ditempelkan di batang pohon. Pada
saat menempelkannya, Diara tidak mau diintervensi, dia maunya bebas sesuai
keinginan dia sendiri. Dan hasilnya dalam sepuluh hari, pohon literasi Diara
yang paling rimbun disusul punya bunda terakhir milik ayah.
Saya bersyukur sekali dengan adanya game ini,
saya dan suami jadi tersentil untuk membiasakan gerakan literasi di rumah kami.
Banyak manfaat yang kami rasakan dari membaca buku yaitu memperkaya ilmu,
wawasan, ide dan kosa kata. Saat mengikuti pelatihan kepenulisan, kurang
membaca membuat saya jadi minim ide dan kata-kata.
Mentor saya saat itu menganjurkan banyak membaca buku untuk memperkaya kosa
kata dan ilmu. Mari digiatkan….
Apalagi untuk putri kami, kami berharap dia
mencintai kegiatan membaca buku dan literasi tidak hanya mampu dan bisa. Karna
sesungguhnya kemampuan membaca adalah salah satu jendela kecil dari apa yang
seharusnya diajarkan oleh orang tua; kemampuan berpikir. Semoga dia memahami
apa yang dia baca, dia mau berpikir, bisa mengimplementasikannya dan bermanfaat
dalam kehidupannya. Aamiin...
“Sesungguhnya
kemampuan membaca itu hanyalah salah satu jendela kecil dari apa yang
seharusnya diajarkan oleh orang tua; kemampuan berpikir.” (Dono Basworo).
Peserta diberikan waktu
selama 15 menit di awal sesi pagi untuk membaca buku, berita, atau
bahan apa saja, lalu membuat semacam resume yang isinya minimal memuat
buku apa yang dibaca, berapa halaman, dan gambaran singkat materi yang
dibaca. Setelah peserta membaca dan menempelkan hasil bacaan pada pohon
literasi,
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/idrisapandi/pohon-literasi_574fb6e5eaafbdec1040937f
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/idrisapandi/pohon-literasi_574fb6e5eaafbdec1040937f
Peserta diberikan waktu
selama 15 menit di awal sesi pagi untuk membaca buku, berita, atau
bahan apa saja, lalu membuat semacam resume yang isinya minimal memuat
buku apa yang dibaca, berapa halaman, dan gambaran singkat materi yang
dibaca. Setelah peserta membaca dan menempelkan hasil bacaan pada pohon
literasi,
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/idrisapandi/pohon-li
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/idrisapandi/pohon-li

