Rindu itu yang di rasa, saat mampir ke sebuah pusat perbelanjaan dan melihat sebuah restoran. Ih...udah lama tak mampir ke sana. Beberapa kali sempat mau mampir, namun urung karena satu dan dua hal
Sore itu niat sudah bulat, pokoknya mau makan di situ. Bisikin pak suami, "Yang makan di sana yuk?Kangen makan cumi telor asinnya". Yes...bujukan berhasil, dan melipirlah kami ke situ.
Alhamdulillah suasana restoran sedang tidak begitu ramai. Kami memilih tempat duduk no 30 yang tidak begitu jauh dari papan menu.Yup papan menu, di sini cukup unik penyajian menu-menunya. Menu yang ditampilkan pada sebuah papan seperti buat majalah dinding jaman sekolah dulu
Masing-masing menu ditampilkan dengan foto dan harganya serta kartu yang bisa diambil jika kita ingin memesan makanan tersebut.
Melihat harga yang tercantum, sekarang harganya cukup lumayan. Seperti sudah banyak perubahan sehingga harga banyak mengalami kenaikan. Ya iyalah...dulu pas sering ke sini tahun berapa, sekarang tahun berapa. Mana sekarang ini harga-harga cukup bikin geleng-geleng. Dulu seratus ribu bisa dapat beberapa jenis sayuran dan protein, sekarang tidak bisa ðŸ˜
Tak menunggu lama, pesanan kami datang
Mata berbinar-binar menanti yang dirindukan. Alhamdulillah akhirnya bisa bertemu lagi. Jadi ingat masa-masa dulu, sering banget makan di sini.
Kalau ingin makan enak dan kenyang. Maka suka melipir ke mari, karena di sini porsinya besar dan yang terpenting di sini nasi putih, sambel dan air teh tawar bisa refil. So...kita bisa nambah terus sampai mabok 😅. Paling suka sama sambel mangganya. Asem-asem manis gitu, dan boleh nambah juga. Bisa sampe mabok juga 😂
Mulailah kami menikmati makanan yang kami pesan. Cumi telur asin yang dulu rasanya fenomenal. Entah kenapa terasa lain. Ada yang berubah dalam rasa. Tidak seperti yang dibayangkan. Mungkin beda orang yang memasak. Sehingga tidak semaknyus dulu. Walaupun demikian, tetap habis juga. Entah karena lapar atau doyan 😂
Pulang dari restoran pak suami berkomentar.
"Bun, rasanya agak lain ya? Tidak seperti dulu."
"Iya yah, dikira hanya Bunda yang merasakan. Tadinya sudah membayangkan nikmat makan cumi telur asin. Ternyata rasanya sudah berubah, hiks...hiks...Tapi tak apa yang penting rasa rindu sudah terobati walaupun tidak sesuai ekspektasi." mencoba menghibur diri.
"Jadi kapan-kapan mau mampir lagi?" tanya Pak Suami
"Kapan-kapan kalau kangen makanan itu kita bikin saja. Dulu sempat pernah bikin, dan rasanya lumayan."
Pak suami tersenyum penuh misteri, mungkin beliau bersyukur, "Alhamdulillah dompet aman"
"Ketika harapan tidak sesuai kenyataan, Allah tengah mengajarkanmu arti menerima ketentuan-Nya yang paling terbaik"
Ya terbaik itu adalah....
Masak sendiri, sudah tentu lebih murah, halal, dan lebih maknyus karena masaknya dengan penuh cinta. Eaaa....




Komentar
Posting Komentar