Langsung ke konten utama

Jangan Jadi Pengemis


"Bu boleh minta uang dua ribu?"

Kaget ditodong pertanyaan seperti itu oleh seorang bapak yang penampilannya cukup rapi.
Saya amati penampilannya,  antara percaya dan tidak percaya dengan pertanyaannya. Ini orang sedang mengemis karena malas atau memang benar sedang kesusahan. Mau menolak permintaan,  tapi kok rasanya gimana ya? Masa hanya uang dua ribu kita merasa tak rela bersedekah. Akhirnya saya singkirkan berbagai pikiran negatif dan meniatkan diri ini sedekah karena Allah,  ikhlas. Urusan dia berbohong dengan kesusahannya itu urusan dia. Setelah saya kasih uang dua ribu rupiah,  dia pun berlalu dan berjalan ke penjual batagor yang berada di belakang saya. Dari jauh saya amati laki-laki itu,  ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Terlihat gerak 4 tubuh dan bibirnya,  sepertinya dia melakukan hal yang sama seperti pada saya,  dia meminta uang Rp.  2000. Ya Allah... Ternyata dia meminta-minta dengan cara seperti itu.  Memang tak seberapa uang yang dia minta,  tapi kalai dikumpulkan lumayan juga. Dari penampilannya sepertinya di sehat fisik dan psikis. Dia mampu untuk bekerja. Namun sayang dia memilih jalan itu.

Melihat situasi seperti itu,  reaksi Little Di adalah menanyakan kenapa bapak itu bersikap seperti itu? Meminta-minta kepada orang,  padahal dia mampu bekerja.  Dia juga menanyakan kenapa bunda memberinya uang,  padahal bunda bisa menolaknya. Menanggapi reaksinya saya paham,  karena saya dan suami termasuk yang berhati-hati dalam memberikan sedekah di tempat umum. Mengingat maraknya pengemis yang menjadikan meminta-minta sebagai profesi,  sehingga kami lebih selektif. Kami lebih memilih bersedekah ke mesjid atau badan/lembaga yang menampung sedekah atau zakat. Ini juga sesuai dengan anjuran pemerintah Depok.

Saya jelaskan kondisi yang tadi bundanya alami,  bundanya tidak bisa menebak bapak itu pengemis profesi atau pengemis yang memang butuh uang.  Karena berniat ingin membantu jadi niatkan karena Allah saja,  berniat mendapatkan pahala dari Allah. Tidak lagi berpikir dia menipu atau tidak,  urusan itu biar jadi urusannya dengan Allah. Dia yang berdosa telah menipu orang lain dengan pura-pura susah,  dia juga berdosa karena tidak mensyukuri nikmat sehat yang Allah berikan. Dia mampu bekerja malah tidak mau bekerja. Sikap seperti itu tidak baik untuk ditiru,  sikap malas tidak disukai oleh Allah.  Allah telah memerintahkan kita manusia untuk bertebaran di muka bumi,  memerintahkan untuk bekerja dan berkarya. 

Reaksi yang Little Di berikan menunjukkan dia telah paham bahwa, pekerjaan meminta-minta tidak baik. Dia juga sudah paham bersedekah sebaiknya pada orang yang membutuhkan, sehingga dia bereaksi seperti itu.  Alhamdulillah...sedikit-sedikit dia menyerap nasihat ayah dan bundanya.


#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial
#day8

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membuat Tujuan Smart

Bagaimana rasanya jika kita berjalan tanpa tujuan ? Bingung pastinya ya?  Tidak jelas target yang ingin dituju, tidak tahu apa yang diinginkan yang ada hanya membuang-buang waktu dan tenaga. Tentu kita tidak ingin mengalaminya bukan? Karena itu dalam melakukan suatu aktivitas atau kegiatan, ada baiknya kita memiliki tujuan terutama tujuan yang SMART. Tujuan SMART? Sudah pernah dengar dengan istilah itu? Kalau belum mari merapat, kita belajar sama-sama. Kebetulan kita lagi belajar membuat tujuan SMART untuk program yang akan Tim Bunda Piara usung. Apa  itu tujuan SMART? Tujuan yang disusun dengan metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant dan Time-based). Setiap elemen kerangka kerja SMART bekerja sama untuk menciptakan tujuan yang direncanakan dengan cermat, jelas, dan  terukur. Metode ini dipopulerkan oleh George T. Doran sejak tahun 1981. Metode ini menggunakan kerangka sasaran SMART dalam menetapkan batasan dan menentukan langkah-langkah yang perlu diambi...

Menjemput Rezeki dengan Ikhtiar yang Mulia

Malam ini kami isi membaca kisah nyata yang dialami teman bunda saat bertemu dengan dua orang anak usia prebaligh yang mengemis dengan cara ngesot. Saat ditanya uang hasil mengemis untuk apa, mereka menjawabnya untuk jajan. Mendengar semua itu, teman bunda menawarkan memberikan pekerjaan yang tidak berat hanya bungkus-bungkus dengan durasi dua jam. Mereka nanti dibayar Rp. 50.000, uang transport diganti dan juga akan diberi makanan. Sehingga uang honornya bisa ditabung untuk keperluan lain. Tanpa berpikir lama, mereka menjawab tidak mau. Malas kalau harus bekerja dulu, mereka lebih memilih mengemis saja.  Tujuan Bunda membacakan kisah ini adalah ingin melihat reaksi Little Di bagaimana? Bagaimana pendapatnya. Little Di berpendapat tidak baik mengemis seperti itu, lebih baik bekerja untuk mendapatkan uang. Alhamdulillah dia telah bisa menilai mana yang baik dan mana yang kurang baik. Minimal dia paham konsep mengemis itu tidak baik, bekerja lebih baik. Walaupun rezeki man...

Scale Up Impact

MasyaAllah tiba di penghujung kelas Bunda Shaliha. Puji syukur alhamdulillah, saya bisa meneruskan sampai tahap ini. Sebuah pencapaian luar biasa, dengan izin Allah bisa melalui tahapan-tahapan di Bunda Shaliha.  Materi 8 semacam refleksi mengikuti Kelas Bunda Shaliha, sementara tugas yang harus dilakukan adalah membuat video perjalanan tim dan penilaian terhadap diri apakah sudah pantas lulus kelas Bunda Shaliha. Tugas pertama perjalanan tim Bunda Piara, maka kita flash back terlebih dahulu ke awal mula pembentukan tim. Diawali dengan menentukan problem statemen yang sedang dialami. Setelah itu mencari tim dengan cara membuat video kampanye yang tujuannya open recruitmen tim. Alhamdulillah, dari iklan yang dilakukan ada 5 orang yang tertarik. Namun dua diantaranya mengundurkan diri karena beberapa pertimbangan. Dari tiga anggota tim, satu diantaranya berasal dari mahasiswi Bunda Shaliha, dan dua diantaranya member Ibu Profesional. Bersama tim kami lalu menentukan problem statemen ...