Langsung ke konten utama

Kebutuhan Vs Keinginan



Saat menjejakan kaki di supermarket,  Little Di bergegas mengambil keranjang belanjaan.

"Tidak usah Nak, Bunda tidak berniat belanja. Hanya ingin mencari sesuatu,  kalau harganya cocok baru beli."
"Cari apa Bun? "
"Ada deh,  hayu."

Kami pun berjalan melewati setiap lorong supermarket,  melihat-lihat barang yang Bunda cari.Saat melewati bagian perlengkapan dapur, kami melihat-lihat lebih lama. Little Di menanyakan beberapa alat yang baru dilihatnya, mulai dari namanya apa dan fungsinya buat apa. Ada beberapa alat yang dia ingin beli, dengan dalih kita belum memilikinya.

"Bun ini bagus, ini apa Bun? Kita belum punnya ya?"
"Itu alat untuk bikin cetakan es cocktail,  jadi nanti buah-buahannya di kerok pake itu.  Nanti bentuknya bulat-bulat buahnya."
"Beli Bun,  buat bikin cocktail!"
"Tidak Nak, maaf kita tidak membutuhkannya. Bunda sedang mencari barang yany lain."
"Tapi ini bagus Bun."
"Iya Nak,  tapi Bunda tidak sedang membutuhkannya. Budgetnya untuk membeli yang lain."
"Emang ini harganya mahal apa murah Bun?"
"Harganya murah Nak,  tapi tidak Bunda rencanakan beli itu. Mungkin lain waktu ya. Hayu Nak!"

Bunda gandeng tangan Little Di, mengajak ke bagian lain dari supermarket. 
"Bun,  boleh aku lihat mainan di sana?"
"Boleh,  tapi maaf tidak minta beli mainan ya?"
"Iya Bun,  nanti kalau ada maianan bagus aku mau nabung dulu Bun."
"Iya sayang,  nabung dulu ya. Kita rencanakan dulu,  cek juga di rumah mainan yang diinginkan sudah punya belum?  Kalau sudah lebih baik membeli yang lain ya."
"Emang kenapa Bun? Kan aku ingin barang tersebut.?"
"Iya ingin,  tapi apa Little Di perlu mainan tersebut?"
"Ehmm... engga sih,  lebih ke  pengen. "
"Nah... Kalau pengen masih bisa ditahan, jadi bisa dipenuhi keperluan lain yang lebih urgent. Jadi tidak usah beli ya,  Little Di harus lebih bisa menahan diri, bisa membedakan kebutuhan vs keinginan."

Ini adalah diskusi yang kami sering lakukan saat main-main ke mall.  Tak bosan-bosan kami mengingatkannya untuk bisa membedakan mana yang termasuk kebutuhan dan keinginannya. Untuk anak seusianya, ini mungkin tidak mudah.  Kami harus memberi contoh teladan dan kceriaan. 



#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial
#day9

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membuat Tujuan Smart

Bagaimana rasanya jika kita berjalan tanpa tujuan ? Bingung pastinya ya?  Tidak jelas target yang ingin dituju, tidak tahu apa yang diinginkan yang ada hanya membuang-buang waktu dan tenaga. Tentu kita tidak ingin mengalaminya bukan? Karena itu dalam melakukan suatu aktivitas atau kegiatan, ada baiknya kita memiliki tujuan terutama tujuan yang SMART. Tujuan SMART? Sudah pernah dengar dengan istilah itu? Kalau belum mari merapat, kita belajar sama-sama. Kebetulan kita lagi belajar membuat tujuan SMART untuk program yang akan Tim Bunda Piara usung. Apa  itu tujuan SMART? Tujuan yang disusun dengan metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant dan Time-based). Setiap elemen kerangka kerja SMART bekerja sama untuk menciptakan tujuan yang direncanakan dengan cermat, jelas, dan  terukur. Metode ini dipopulerkan oleh George T. Doran sejak tahun 1981. Metode ini menggunakan kerangka sasaran SMART dalam menetapkan batasan dan menentukan langkah-langkah yang perlu diambi...

Menjemput Rezeki dengan Ikhtiar yang Mulia

Malam ini kami isi membaca kisah nyata yang dialami teman bunda saat bertemu dengan dua orang anak usia prebaligh yang mengemis dengan cara ngesot. Saat ditanya uang hasil mengemis untuk apa, mereka menjawabnya untuk jajan. Mendengar semua itu, teman bunda menawarkan memberikan pekerjaan yang tidak berat hanya bungkus-bungkus dengan durasi dua jam. Mereka nanti dibayar Rp. 50.000, uang transport diganti dan juga akan diberi makanan. Sehingga uang honornya bisa ditabung untuk keperluan lain. Tanpa berpikir lama, mereka menjawab tidak mau. Malas kalau harus bekerja dulu, mereka lebih memilih mengemis saja.  Tujuan Bunda membacakan kisah ini adalah ingin melihat reaksi Little Di bagaimana? Bagaimana pendapatnya. Little Di berpendapat tidak baik mengemis seperti itu, lebih baik bekerja untuk mendapatkan uang. Alhamdulillah dia telah bisa menilai mana yang baik dan mana yang kurang baik. Minimal dia paham konsep mengemis itu tidak baik, bekerja lebih baik. Walaupun rezeki man...

Scale Up Impact

MasyaAllah tiba di penghujung kelas Bunda Shaliha. Puji syukur alhamdulillah, saya bisa meneruskan sampai tahap ini. Sebuah pencapaian luar biasa, dengan izin Allah bisa melalui tahapan-tahapan di Bunda Shaliha.  Materi 8 semacam refleksi mengikuti Kelas Bunda Shaliha, sementara tugas yang harus dilakukan adalah membuat video perjalanan tim dan penilaian terhadap diri apakah sudah pantas lulus kelas Bunda Shaliha. Tugas pertama perjalanan tim Bunda Piara, maka kita flash back terlebih dahulu ke awal mula pembentukan tim. Diawali dengan menentukan problem statemen yang sedang dialami. Setelah itu mencari tim dengan cara membuat video kampanye yang tujuannya open recruitmen tim. Alhamdulillah, dari iklan yang dilakukan ada 5 orang yang tertarik. Namun dua diantaranya mengundurkan diri karena beberapa pertimbangan. Dari tiga anggota tim, satu diantaranya berasal dari mahasiswi Bunda Shaliha, dan dua diantaranya member Ibu Profesional. Bersama tim kami lalu menentukan problem statemen ...