Langsung ke konten utama

Mencoba Melatih Rasa

from google

Cuaca panas terasa sempurna minum yang dingin-dingin. Nyes....seger sampai ke hati. Apalagi kegiatannya cukup menguras keringat. Maunya minum yang dingin-dingin dan manis. Itu mungkin yang dirasakan putri kami, dia membujuk ingin membeli satu botol minuman tradisional dingin yang di jual teman sagya. Memang beberapa hari ini, jika ada kegiatan yang dihadiri teman saya yang berjualan minuman itu maka kami akan membelinya. Tapi kondisinya saat itu memang sedang haus, panas dan stok minuman yang dibawa habis. Ingin membeli minuman yang seger-seger, tapi warung atau toko lokasinya jauh. Ini yang menyebabkan saya membelinya, karena kami merasa butuh minuman itu untuk mengusir rasa haus dan mencegah dehidrasi.

Kondisi playdate kali ini berbeda dengan situasi pertemuan-pertemuan sebelum-sebelumnya. Makanan dan minuman saat playdate melimpah ruah, banyak jumlahnya dan beraneka ragam. Membuat gagal diet bagi orang yang sedang diet. Alasan inilah yang membuat Bunda tidak mengizinkan Little DI membeli minuman yang diinginkan. Minumlah minuman yang tesedia, yang mudah mendapatkanya dan gratis.

Bujukan itu tidak mempan, yang ada malah Little Di mendapat  wejangan tentang kebutuhan manusia yang dibagi menjadi Kebutuhan dan Keinginan. Apa bedanya kebutuhan dan keinginan. Bunda mengajak LIttle Di memahami  maksud dari kalimat di atas? Apa itu kebutuhan? Apa itu keinginan.

Bunda mencoba mengajarkan tentang apa itu kebutuhan dan apa itu keinginin? Kami mengajarkan bahwa sesuatu yang kita inginkan namun sebenarnya tanpa keberadaan tidak begitu mendesak masih bisa dtunda maka itu dinamakan keinginan. Sementara untuk kebutuhan, keberadaanya sangat urget dan tidak bisa ditunda. 

Ini masih PR buat ayah dan bundanya, terus mengingatkan mana yang termasuk kebutuhan dan mana yang terasuk keinginana. Di sini anak-anak belajar prioritas, mana yang lebih diperlukan dan mana yang bisa ditunda.

Alhamdulillah keinginannya yang tidak terpenuhi tidak membuat dia bersedih hati. Dia bisa menerima dan bermain kembali. Semoga dia memahami alasan Bunda menolak permintaannya. Semoga kecerdasan finansialnya semakin terasah. Aamiin....


#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari 
#Day5
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membuat Tujuan Smart

Bagaimana rasanya jika kita berjalan tanpa tujuan ? Bingung pastinya ya?  Tidak jelas target yang ingin dituju, tidak tahu apa yang diinginkan yang ada hanya membuang-buang waktu dan tenaga. Tentu kita tidak ingin mengalaminya bukan? Karena itu dalam melakukan suatu aktivitas atau kegiatan, ada baiknya kita memiliki tujuan terutama tujuan yang SMART. Tujuan SMART? Sudah pernah dengar dengan istilah itu? Kalau belum mari merapat, kita belajar sama-sama. Kebetulan kita lagi belajar membuat tujuan SMART untuk program yang akan Tim Bunda Piara usung. Apa  itu tujuan SMART? Tujuan yang disusun dengan metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant dan Time-based). Setiap elemen kerangka kerja SMART bekerja sama untuk menciptakan tujuan yang direncanakan dengan cermat, jelas, dan  terukur. Metode ini dipopulerkan oleh George T. Doran sejak tahun 1981. Metode ini menggunakan kerangka sasaran SMART dalam menetapkan batasan dan menentukan langkah-langkah yang perlu diambi...

Menjemput Rezeki dengan Ikhtiar yang Mulia

Malam ini kami isi membaca kisah nyata yang dialami teman bunda saat bertemu dengan dua orang anak usia prebaligh yang mengemis dengan cara ngesot. Saat ditanya uang hasil mengemis untuk apa, mereka menjawabnya untuk jajan. Mendengar semua itu, teman bunda menawarkan memberikan pekerjaan yang tidak berat hanya bungkus-bungkus dengan durasi dua jam. Mereka nanti dibayar Rp. 50.000, uang transport diganti dan juga akan diberi makanan. Sehingga uang honornya bisa ditabung untuk keperluan lain. Tanpa berpikir lama, mereka menjawab tidak mau. Malas kalau harus bekerja dulu, mereka lebih memilih mengemis saja.  Tujuan Bunda membacakan kisah ini adalah ingin melihat reaksi Little Di bagaimana? Bagaimana pendapatnya. Little Di berpendapat tidak baik mengemis seperti itu, lebih baik bekerja untuk mendapatkan uang. Alhamdulillah dia telah bisa menilai mana yang baik dan mana yang kurang baik. Minimal dia paham konsep mengemis itu tidak baik, bekerja lebih baik. Walaupun rezeki man...

Scale Up Impact

MasyaAllah tiba di penghujung kelas Bunda Shaliha. Puji syukur alhamdulillah, saya bisa meneruskan sampai tahap ini. Sebuah pencapaian luar biasa, dengan izin Allah bisa melalui tahapan-tahapan di Bunda Shaliha.  Materi 8 semacam refleksi mengikuti Kelas Bunda Shaliha, sementara tugas yang harus dilakukan adalah membuat video perjalanan tim dan penilaian terhadap diri apakah sudah pantas lulus kelas Bunda Shaliha. Tugas pertama perjalanan tim Bunda Piara, maka kita flash back terlebih dahulu ke awal mula pembentukan tim. Diawali dengan menentukan problem statemen yang sedang dialami. Setelah itu mencari tim dengan cara membuat video kampanye yang tujuannya open recruitmen tim. Alhamdulillah, dari iklan yang dilakukan ada 5 orang yang tertarik. Namun dua diantaranya mengundurkan diri karena beberapa pertimbangan. Dari tiga anggota tim, satu diantaranya berasal dari mahasiswi Bunda Shaliha, dan dua diantaranya member Ibu Profesional. Bersama tim kami lalu menentukan problem statemen ...