Langsung ke konten utama

Tentang Rasa Syukur


Apakah arti bahagia bagimu kawan?
Memiliki pasangan hidup yang rupawan, kaya, cerdas dan sholeh/solehahkah?
Memiliki anak-anak yang lucu, sehat dan sholehkah?
Memiliki jabatan yang tinggikah?
Memiliki harta yang berkecukupankah?

Tapi benarkah semua kriteria itu?
Bagaimana jika pasangan hidup kita tidak rupawan, tidak kaya, tidak cerdas dan  tidak sholeh/solehah?
Apakah hidup kita menjadi tidak bahagia?
Jika itu menjadi tolak ukur dari kebahagiaan dalam hidup. Mungkin orang yang tidak memiliki pasangan atau yang memiliki pasangan jauh dari kriteria itu akan merasakan kesedihan dan tidak bahagia dalam hidupnya. Tidak ada cinta dalam hidupnya karena pasangannya tidak dia sukai dan jauh dari harapannya. Yang belum berpasangan mungkin akan dirundung kesedihan dan kesepian, bisa jadi merasa iri pada yang sudah memiliki pasangan.

Bagaimana jika kita tidak memiliki anak-anak yang lucu, sehat dan sholehkah?
Apakah hidup kita menjadi tidak bahagia?
Tentu tidak bukan?  
Jika  itu menjadi tolak ukur dari kebahagiaan dalam hidup. Bagaimana dengan yang tidak memiliki anak. Dia mungkin akan merana hidupnya, merasa kesepian karena tidak ada gelak tawa dan tangisan anak kecil di rumahnya. Begitupun dengan yang memiliki anak tapi kondisi dan perilaku jauh dari harapannya, dia mungkin akan merutuki nasibnya. Merasa gagal dalam mendidik anak dan  bisa jadi menyesal telah melahirkannya. Astagfirullah aladzim...

Bagaimana jika kita tidak memiliki jabatan yang tinggi?
Apakah hidup kita menjadi tidak bahagia?
Tentu tidak bukan? Jika itu menjadi tolak ukur, bagaimana dengan orang-orang yang bekerja serabutan dengan hasil pas-pasan. Boro-boro berpikir jabatan tinggi, bagi mereka mungkin bisa dapat kerja pun sudah alhamdulillah. Tidak peduli jenis pekerjaan apa, tinggi atau rendahan yang penting dia dapat upah. Mungkin kita berpikir, cukupkah penghasilannya mencukupi kehidupan keluarganya. Buat kita mungkin jauh dari kata cukup, tapi nyatanya mereka bertahan hidup dan senyuman masih menghiasi bibir mereka. 

Bagaimana jika kita tidak memiliki harta yang berkecukupan?
Apakah hidup kita menjadi tidak bahagia?
Tentu tidak bukan?
Jika semua itu menjadi tolak ukur dari kebahagiaan dalam hidup, orang yang rumahnya kecil atau mereka yang tinggal di kolong jembatan akan jauh dari kata bahagia. Boro-boro mereka memikirkan barang-barang mewah dan kekinian, boro-boro berpikir tingg di rumah besar dan mewah. Bagi mereka memiliki uang untuk makan saja yang sudah alhamdulillah.

Lalu arti apa arti bahagia?
Bagaimana mencapainya? Mungin jawabannya berbeda -beda tiap orang.
Ini tergantung orangnya dan sikap dia dalam menyikapinya, setiap orang memiliki sudut pandang masing-masing dalam mengukur kebahagiaan. Namun yang pasti ketika kita melihat sekeliling kita memandangnya dengan seksama kemudian merasa alhamdulillah Allah anugerahkan semua yang kita miliki mungkin akan terasa lain. 

Coba pandangi anak kita yang setiap hari ngintilan kita, ngerecoki kita. Lalu bayangkan jika mereka tidak ada, bagaimana rasanya? Pasti sepi ya, kita jadi merasa hampa dalam rumah kita. Karena yang ada suara kita dan pasangan kita. Tidak ada suara tangisan, tertawa, omelan mungkin makian seperti biasanya yang terlontar saat kesal dengan tingkah anak. Alhamdulillah ya...hal ini harus kita syukuri karena Allah beri kita anugerah anak melengkapi rumah tangga kita sehingga berwarna. Sebagai bentuk terima kasih kita kepada Allah, jagalah, sayangilah dan didiklah sebaik mungkin karena kelak akan diminta pertanggung jawabanya.

Bagaimana dengan pasangan hidup?
Ini pun kita harus syukuri, coba bayangkan jika kita belum memiliki pasangan. Pasti hidup kita sendiri, tak ada teman untuk berbagi suka dan duka. Sedih ya...Maka ketika Allah jodohkan dengan seseorang yang jauh dari kriteria yang diidamkan, disyukuri saja. Itulah mungkin jodoh terbaik untuk kita dari Allah. Karena Allah tahu yang terbaik untuk kita. Pasti ada hikmah ketika kita menjalani pernikahan dengannya

Begitupun dengan harta dan jabatan, apa yang kita miliki sekarang adalah apa yang kita ikhtiarkan. Bersyukurlah atas semuanya, dan dilaksanakan amanahnya. Ingatlah bahwa apa yang Allah amanahkan kelak akan dihisab, diminta pertanggungjawabannya. Manfaatkan harta yang kita miliki di jalan Allah dan laksanakan amanah dari Allah dengan penuh dedikasi, itu salah satu bentuk syukur atas nikmat yang Allah anugerahkan. Insya Allah ketika jalani dengan ikhlas dan amanah, Allah akan lancarkan jalan kita dan tambahkan rezeki kita seperti janji Allah : 

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

Masih banyak yang bisa kita syukuri atas  nikmat yang Allah berikan.
Lihatlah tubuh kita, Allah ciptakan dengam begitu sempurna dan detil sesuai fungsinya. 
Bumi dan alam di mana tempat kita hidup, Allah ciptakan dengan begitu indahnya dan sempurna.
Masih banyak lagi hal-hal lain yang Allah ciptakan untuk kita.

Agama Islam menganjurkan umatnya untuk melihat siapa yang ada di bawah. Sesekali boleh melihat ke atas sebagai motivasi. Namun jangan sering, jangan dibiasakan mengukur tingkat kesejahteraan dan kemakmuran hidup dengan yang ada di atas kita. Hal ini bisa menyebabkan diri kita dekat sikap kufur.Naudzubillah

Perbanyaklah bersyukur atas semua yang diberikan Alah pada kita. Nikmat dunia adalah ujian,  karena itu semua nikmat yang Allah berikan jadikanlah semuanya sebagai sarana untuk membantu siapa yang melakukan yang terbaik di antara kita.

Lakukanlah refleksi diri, ini akan mampu mengeliminasi sinyal-sinyal kekufuran yang mungkin tumbuh. Dengan refleksi semoga setiap insan bisa berhasil untuk memperbaiki diri sendiri. Refleksi syukur pun bisa ditandingi dengan berlomba-lomba melakukan kebaikan.
Namun bentuk rasa syukur yang terbesar dan terbaik, adalah dengan beribadah bagi-Nya hanya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu 'anha: "Rasulullah pada suatu malam bangun melaksanakan shalat sampai pecah-pecah kakinya, kemudian Aisyah mengatakan:" Wahai Rasulullah, ahli hukum yang melakukan demikian padahal dosa-dosamu yang telah ditanyakan dan yang akan datang Telah diampuni Allah? "Rasulullah menjawab:" Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur? "
Masya Allah....bisakah kita seperti Rasulullah?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membuat Tujuan Smart

Bagaimana rasanya jika kita berjalan tanpa tujuan ? Bingung pastinya ya?  Tidak jelas target yang ingin dituju, tidak tahu apa yang diinginkan yang ada hanya membuang-buang waktu dan tenaga. Tentu kita tidak ingin mengalaminya bukan? Karena itu dalam melakukan suatu aktivitas atau kegiatan, ada baiknya kita memiliki tujuan terutama tujuan yang SMART. Tujuan SMART? Sudah pernah dengar dengan istilah itu? Kalau belum mari merapat, kita belajar sama-sama. Kebetulan kita lagi belajar membuat tujuan SMART untuk program yang akan Tim Bunda Piara usung. Apa  itu tujuan SMART? Tujuan yang disusun dengan metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant dan Time-based). Setiap elemen kerangka kerja SMART bekerja sama untuk menciptakan tujuan yang direncanakan dengan cermat, jelas, dan  terukur. Metode ini dipopulerkan oleh George T. Doran sejak tahun 1981. Metode ini menggunakan kerangka sasaran SMART dalam menetapkan batasan dan menentukan langkah-langkah yang perlu diambi...

Menjemput Rezeki dengan Ikhtiar yang Mulia

Malam ini kami isi membaca kisah nyata yang dialami teman bunda saat bertemu dengan dua orang anak usia prebaligh yang mengemis dengan cara ngesot. Saat ditanya uang hasil mengemis untuk apa, mereka menjawabnya untuk jajan. Mendengar semua itu, teman bunda menawarkan memberikan pekerjaan yang tidak berat hanya bungkus-bungkus dengan durasi dua jam. Mereka nanti dibayar Rp. 50.000, uang transport diganti dan juga akan diberi makanan. Sehingga uang honornya bisa ditabung untuk keperluan lain. Tanpa berpikir lama, mereka menjawab tidak mau. Malas kalau harus bekerja dulu, mereka lebih memilih mengemis saja.  Tujuan Bunda membacakan kisah ini adalah ingin melihat reaksi Little Di bagaimana? Bagaimana pendapatnya. Little Di berpendapat tidak baik mengemis seperti itu, lebih baik bekerja untuk mendapatkan uang. Alhamdulillah dia telah bisa menilai mana yang baik dan mana yang kurang baik. Minimal dia paham konsep mengemis itu tidak baik, bekerja lebih baik. Walaupun rezeki man...

Scale Up Impact

MasyaAllah tiba di penghujung kelas Bunda Shaliha. Puji syukur alhamdulillah, saya bisa meneruskan sampai tahap ini. Sebuah pencapaian luar biasa, dengan izin Allah bisa melalui tahapan-tahapan di Bunda Shaliha.  Materi 8 semacam refleksi mengikuti Kelas Bunda Shaliha, sementara tugas yang harus dilakukan adalah membuat video perjalanan tim dan penilaian terhadap diri apakah sudah pantas lulus kelas Bunda Shaliha. Tugas pertama perjalanan tim Bunda Piara, maka kita flash back terlebih dahulu ke awal mula pembentukan tim. Diawali dengan menentukan problem statemen yang sedang dialami. Setelah itu mencari tim dengan cara membuat video kampanye yang tujuannya open recruitmen tim. Alhamdulillah, dari iklan yang dilakukan ada 5 orang yang tertarik. Namun dua diantaranya mengundurkan diri karena beberapa pertimbangan. Dari tiga anggota tim, satu diantaranya berasal dari mahasiswi Bunda Shaliha, dan dua diantaranya member Ibu Profesional. Bersama tim kami lalu menentukan problem statemen ...