"Aku sayang kamu."
"Ehm...."
"Aku cinta kamu."
"Ehm..."
(Hening....)
Ah...percakapan itu, sering terjadi antara aku dan suamiku. Dia yang romantis mengungkapkan sejuta kata cinta, dan aku tak menjawabnya. Hanya ehm...dan diam yang menciptakan keheningan.
Perkenalkan namaku Larasati, usia 27 tahun seorang istri dari pria tampan nan rupawan bernama Raka Bagaskara. Kami menikah lima tahun yang lalu melalui proses taaruf. Pernikahan kami telah dianugerahi sepasang anak kembar, Ranu dan Rani yang sangat lucu menggemaskan.
Kehidupan rumah tangga kami berjalan normal, tak ada kendala apapun. Aku berusaha menjadi istri yang baik, melayani suamiku sebaik mungkin. Begitupun suami, dia adalah sosok suami yang baik dan bertanggung jawab.
Namun ada satu sifatnya yang aku kurang nyaman, yaitu sifat romantisnya. Disaat para istri lain mendamba memiliki suami yang romantis justru aku geli kalau suami berlaku romantis. Mengapa?Karena aku tidak suka dan tidak merasa nyaman. Boro-boro bisa membalas perlakuannya, menerima perlakuannya saja aku geli dan kadang jadi tidak suka.
Awal-awal pernikahan, masalah romantis itu jadi boomerang dalam pernikahan ini. Suami kesal karena aku tak membalas perlakuannya. Dia sering ngambek dan uring-uringan, bilang aku gak cinta dialah, enggak sayang dialah. Tak jarang jadi perang dingin berhari-hari. Namun biasanya dia akan minta maaf sendiri, dia enggak tahan dicuekin istrinya. Tapi sepertinya dia tidak pernah putus asa, dia tetap menaburkan kata kita pada istrinya yang kaku ini setiap hari. Memberikan pelukan hangat dan kecupan mesra di kening setiap ada kesempatan, walau tak pernah direspon oleh istrinya.
Semua baik-baik saja, hingga suatu waktu seorang teman mengajakku menghadiri sebuah majlis ilmu, seminar parenting. Entah angin apa yang menggerakkan kakiku untuk melangkah menghadiri seminar ini. Kutitipkan Ranu dan Rani kepada Mas Raka, kebetulan dia sedang libur.
Diawal materinya terasa biasa saja, namun mulai ke sini beberapa kalimat narasumber menggelitik hatiku. Tentang sudahkah memeluk anak-anak? Sudahkah menyentuh hati anak-anak? Berikan pujian dan kata-kata cinta untuk anak-anak.
Deg, aku langsung terdiam. Selama ini aku jarang memeluk anak-anak, jarang terjadi kontak fisik antara aku dan anak-anak. Begitupun dengan suami. Memberikan pujian, boro-boro pujian. Percakapan kami, percakapan satu arah yang mungkin isinya perintah semua. Jleb...hatiku terasa tertusuk mendengar untaian kata dari pemateri.
Tak terasa air mata jatuh meleleh di pipiku, istigfar tak henti-henti terucap dari bibirku yang mulai basah terkena air mata. Aku merasa bersalah sama anak-anakku, aku tak pernah melakukan semua yang diucapkan pemateri hari ini. Aku merasa jadi ibu yang gagal, karena selama empat tahun ini tidak menaburkan kata cinta dan pujian pada mereka, apalagi pelukan.Hiks...hiks...ibu macam apa aku ini, ibu yang hidup bagaikan robot tak punya hati dan perasaan. Hiks...hiks...tak heran anak-anak sulit dikontrol dan suka bikin ulah. Baik saat ada ayahnya, mungkin mereka sengaja melakukannya karena mencari perhatianku, butuh kasih sayang yang tidak pernah kutunjukkan. Aku memang sayang mereka namun tak pernah kuucapkan dengan kata-kata verbal juga sentuhan.
Malamnya, saat anak-anak sudah tetidur. Kupadangi wajahnya satu persatu, damai rasanya. Setelah lima tahun bersama kedua kembarku, baru tadi sore aku beranikan diri memeluk mereka dengan segenap jiwa.
Awalnya aku ragu, ada perasaan aneh enggak sih, malu ah. Tapi aku tepis semuanya, kutekadkan diri ini untuk memulai. Aku ingin memperbaiki semuanya, aku enggak mau anak-anakku seperti bundanya yang kaku bagai robot.
Anak-anak bingung, mungkin mereka bertanya, "Bunda kenapa ya? Salah minum obat kali ya? Kok tumben main peluk-pelukan?" Walau itu tak terucap tapi aku baca dari mimik muka dan gesture tubuh si kembar. Begitupun ayahnya, dia hanya melongo tak berucap apapun. Sore itu, sore terindah yang kurasakan. Bisa merasakan pelukan hangat si kembar dan suami tercinta. Tak ketinggalan permohonan maaf dan ucapan cinta.
Mas Raka menghampiriku yang sedang duduk di atas ranjang anak-anak.
"Anak-anak sudah tidur sayang?"
"Sudah Mas, baru saja." Jawabku perlahan sembari tersenyum.
Mas Raka memandang wajahku, mengamati dengan seksama, "Apa yang terjadi sayang? Ini di luar kebiasaan? Jujur Mas kaget dengan sikap Adek sore ini?"
"Biasa saja ah" jawabku perlahan.
"Enggak Dek, kamu tidak biasanya. Kamu yang biasanya marah kalau dipanggil sayang, ini biasa saja. Malah main peluk-pelukan dan ungkapan sayang. Ada apa Dek?" tanya Mas Raka sambil menggemgam tanganku.
Aku terdiam, bibir ini kelu bingung menjawabnya. Mas Raka menatapku dengan mata elangnya, menuntut penjelasan dariku.
"Ada apa Dek? tanyanya kembali.
"Ehm...seminar tadi pagi Mas, isinya sangat menohok aku. Aku merasa tertampar dengan semua perkataan pematerinya. Aku jadi sadar selama ini aku tidak menjadi ibu yang baik buat anak-anakku. Tidak menjadi istri yang baik untukmu Mas. Aku merasa gagal jadi ibu dan istri Mas.Hiks...hiks...".(tak kuasa air mata jatuh bercucuran).
"Maafin Laras ya Mas, selama ini tidak pernah merespon semua perhatian Mas. Tidak pernah menunjukkan kasih dan cinta. Bahkan sama si kembarpun aku begitu.Aku jahat ya Mas, aku seperti tidak sayang Mas dan Anak-anak. Tak heran anak-anak enggak nurut sama aku.Padahal jujur aku sayang sama kalian, tapi aku sungkan dan malu untuk mengungkapkannya. Aku enggak biasa Mak, sejak kecil aku tidak biasa mendapat perlakuan seperti itu. Ibuku selama ini tidak pernah memelukku, aku besar oleh pengasuh. Aku tidak pernah dihujani dengan kata-kata pujian dan cinta. Apakah itu yang menyebabkan aku menjadi seperti ini Mas? Jiwaku kering dan kosong, tidak ada cinta dan kasih sayang."
Mas Raka menatapku dengan seksama, ditariknya tanganku dan terhempaslah aku dipelukannya. Aku menangis dipelukannya, menumpahkan semua kegundahan hatiku. Tak peduli baju Mas Raja basah kuyup karena air mataku. Perasaan hangat kurasakan, saat suamiku mempererat pelukannnya. Sesekali dia mengecup rambutku. Ah...damainya...rasanya tidak ingin berakhir.
Saat Mas Raka mengurai pelukannya, ada rasa tidak rela. Namun perasaan malu tiba-tiba datang, masa minta pelukan terus kupandangi wajah tampannya, dia tersenyum manis sekali.
"Makasih ya Sayang, Mas senang sekali akhirnya hari ini tembok berlinku runtuh. Setelah tujuh purnama nunggu, akhirnua doa Mas terkabul." Ucap Mas Raka sambil mengedipkan matanya
"Ih...Mas Raka, masa Laras disamaian sama Tembok Berlin." protesku kesal.
"Masya Allah...istri coolku merajuk, tumben. Biasanya cool baga salju, kaku bagai kaki." kelakarnya lagi.
" Mas Raka...jangan menggoda Laras ah."
"Hahaha...muka Adek memerah, Mas jadi suka godainnya."
Aku cubit perut Mas Rak, biar tahu rasa dia godain istrinya.
"Auw...auw...sakit Dek, jangan dicubit dong Masnya. Dicium az." rayunya sambil menyipitkan pupil matanya.
" Au ah gelap."jawabku singkat.
"Deh marah...maafin Mas ya, tadikan becanda Dek. Jujur Mas hari ini senang banget, adek mau membuka diri. Mau mencoba menunjukkan rasa sayang dan cinta pada orang-orang disekitar yang dicintainya. Selama ini Adek kan enggak pernah merespon setiap perlakuan romantis Mas ke Adek. Tidak hanya sama Mas, kepada anak-anak juga Adek seperti itu. Makanya Mas coba imbangi. Mas coba penuhi kasih sayang mereka semampu Mas, tapi ternyata tidak bisa. Anak-anak sehari-hari dengan bundanya, maka karakter bundalah yang lebih dominan menguasai mereka."
Aku terdiam mendengar penjelasan Mas Raka, tak mampu berkata-kata. Mataku sudah berkaca-kaca, aku terharu. Masya Allah ternyata suamiku sabar banget, dia sudah merasakannya tapi dia tidak pernah protes. Dia diam saja, tapi dia terus ikhtiar dengan memberikan cinta dan sayang untukku dan anak-anak.
"Kok Mas Raka enggak pernah menegur Laras, mengingatkan?"
"Mas sebenarnya ingin mengingatkan, tapi setelah Mas lihat-lihat seperti ini bukan masalah karakter Adek. Tapi terkait pola asuh adek dulu di keluarga. Mas Lihat, semua anggota keluarga di rumah Adek sikapnya sama seperti Adek. Bahkan Ibupun sama seperti itu. Jadi Mas coba pahami dan maklumi, mungkin adek tidak terbiasa dengan sikap romantis. Mas niatkan coba merubah Adek, tapi Mas sadar itu enggak mudah. Kan istri itu tulang rusuknya suami yang bengkok, kalau meluruskannya terlalu keras bisa patah. Makanya perlahan-lahan saja dan tak henti berdoa semoga hati adek luluh. Alhamdulillah doa Mas terkabul."
Aku terharu mendengar semua perkataan Mas Raka, tulus dan penuh cinta. Hanya aku saja yang dableg tidak pernah meresponnya. Alhamdulillah dia tipe pantang menyerah, jadi tetap berusaha walaupun sering kuabaikan.
Mas Raka memelukku dengan erat dan berbisik, "Sudah malam, tidur yuk. Si Kembar sudah besar, sudah cocok punya adik.
"Ih... Mas Raka. Malu tahu, ada Si Kembar."
"Mereka enggak denger udah tidur, yuk ke kamar"
Belum sempat ku jawab, tiba-tiba tubuhku melayang. Mas Raka telah menggendongku ala bridal. Aku jadi malu, pipiku sudah merona merah untung cahaya lampu redup. Kalau terang, aku jadi tambah malu. Rasanya nyaman dalam gendongan Mas Raka, tahu begini kenapa enggak dari dulu ya.hehehe.
Malam kian larut, namun mata ini tak kunjung terpejam. Kupandangi wajah Mas Raka, suamiku tercinta. Malam ini kami sangat bahagia, karena satu permasalahan terbesar kami telah teratasi. Mulai malam ini, aku berjanji akan membuka hati dan mengungkapkan semua yang aku rasakan. Akan kutunjukkan rasa cinta dan sayang yang kurasakan kepada orang-orang yanh kusayang. Tak perlu lagi merasa malu atau sungkan.
Kuraih handphone di atas meja, ku coba buka gallery foto. Saat membuka salah satu foto ibuku, aku terdiam. Kupandangi wajah tuanya, terlihat gurat wajahnya yang masih cantik walau telah tertutupi usia. Tangan-tangannya yang mulai keriput, yang tak pernah kurasakan belaian dan pekukannya. Ibu....aku rindu padamu, aku ingin dipeluk dan disayang. Aku ingin dipanggil Cah Ayu, anak sholehah dan sejuta kata pujian. Akupun ingin melakukannya untuk ibu, aku ingin peluk ibu. Mencium pipi ibu, tangan ibu dan kaki ibu.Aku ingin mengatakan, makasih karena jasa ibu dan kasih sayang ibulah aku bisa seperti ini. Aku bisa mendapat pendidikan yang baik, pekerjaan yang baik dan suami yang sholeh. Tentu tidak mudah bagi seorang single mother mendidik 9 anak dan juga harus banting tulang mencari nafkah. Tangguh dan kuat itu kesan yanh aku lihat dari Ibu, tak pernah mengeluh dan menangis. Mungkin karena kerasnya perjuangan ibu membesarkan kami, sehingga tidak ada waktu untuk menujukkan kasih sayang secara tersurat.
"Assalamualaikum" terdengar suara yang kurindu diujung telepon, suara yang membuat aku tak bisa tidur.
"Laras ada apa Nak?"
"Terdengar lagu suara ibu menyapaku?"
"Ibu...ibu...ibu..." aku tak mampu melanjutkan perkataanku yang ada suara isakan.
"Ndo, ada apa? " terdengar suara khawatir Ibu, "Kamu baik-baik saja Nak?"
"Ibu maafin Laras ya Bu?Laras sayang ibu. Ibu adalah ibu terbaik untuk Laras. Laras kangen Ibu." ucapku terbata-bata diiringi suara isakan tangis.
Keheningan yang terdengar, ibu tak membalas perkataanku. Lalu sambungan telepon terhenti.
"Ibu....ibu...ibu...!" teriakku, ada rasa kecewa dalam hatiku karena ibu tak merespon ucapanku.
Mas Raka terbangun dan menghampiriku,
"Kenapa Dek? Kok malam-malam menangis?"
"Ibu Mas, aku coba bilang sayang dan kangen sama Ibu tapi tak di balas.Aku sedih mas dan kecewa. Begini ya Mas rasanya, kalau tidak direspon. Maafin Laras ya Mas, selama ini acuhin Mas." Jelasku ke Mas Raka.
" Ya udah, ibu mungkin kaget dan belum terbiasa. Perlahan-lahan saja Dek, terus didoakan.Besok kita ke rumah Ibu ya. Mas nanti izin enggak masuk kerja."
"Benar Mas?"mataku berbinar-binar mendengar perkataan Mas Raka.
"Ayo sekarang tidur, kamu kan belum tidur sama sekali."
"Ayo Mas."
Tanpa Larasati sadari, di kota lain, seorang wanita tua termenung sembari mengusap air mata dengan ujung jilbabnya.
"Laras...ibu juga sayang sama Laras, kangen banget sama Laras, Raka dan anak-anak. Maafin ibu tidak pernah menunjukkanya, karena ibu tak bisa dan sungkan. Mungkin ini adalah kesalahan ibu sejak dulu, menahan diri untuk tidak melibatkan emosi dalam mendidik anak-anak ibu. Karena ibu ingin kalian jadi orang-orang tangguh yang mudah terbawa perasaan. Maafin Ibu ya Nak."

Komentar
Posting Komentar