Menyimak penjelasan Bu Septi mengenai gairah, buka mata saya bahwa gairah ini harus dikelola sebaik-baik. Saya yang sejak kecil kurang mengenal gairah apa itu, dulu orientasi saya lebih akademik. Mengenal istilah passion dan mulai mencari serta menelusurinya baru dilakukan saat mengenal Ibu Profesinal. Itupun masih terus mencari hingga saat Kelas Bunda Cekatan, mulai mencoba fotografi sebagai salah satu passion yang ingin saya lebih dalam.
Sejak beberapa bulan ini, saya mulai serius belajar fotografi. Sebelumnya saya melakukan tanpa ilmu, hanya dengan perasaan. Saya senang melakukannya, terutama saat menjadi bagian dokumentasi di sebuah kegiatan lalu diapresiasi oleh orang lain rasanya bahagia. Selain itu hati ini merasa bahagia walaupun tidak dibayar.
Sebuah tekad mulai dicanangkan, bahwa ini lebih baik dalam fotografi maka mulai mengikuti kelas fotografi. Alhamdulillah atas ridho Allah dan juga suami, beberapa kali ikut kelas dengan htm ramah di kantong, bahkan ada yang gratis. Bahkan ada satu kelas DSLR / mirorless secara privat selama 7 hari yang saya ikuti secara gratis sebagai hadiah dalam memenangkan tantangan fotonya. Masya Allah ... tabarakallah ...
Kelas fotografi tersebut memberikan banyak pencerahan kepada saya yang awam, sehingga mulai dipraktekan pada saat motret. Sebagai ajang latihan melatih keterampilan dan perasaan, saya mengikuti tantangan motret yang diadakan di IG. Beberapa kali masuk grid atau memenangkan hadiah, menjadi mood boster untuk terus motret.
Sejak Bunda Cekatan, saya mulai ingin mempelajari produk terutama fotografi makanan. Ini melihat peluang saat pelaku bisnis rumahan yang berkembang ini dan tentu mereka memerlukan foto produknya tampil menarik. Bagi yang tidak memiliki skill motret tentu ini menjadi ranah, sehingga perlu jasa fotografer. Melihat peluang inilah, saya ingin suatu saat nanti bisa menjadi seorang produk fotografi.
Jika bicara jenjang gairah seperti penjelasan Bu Septi, mungkin saya masih dalam tahap gairah pengetahuan terutama untuk produk dan makanan fotografi. Sementara untuk kegiatan motret saya sudah di tahap gairah untuk servis dan bisnis. Beberapa kali saya menjadi fotografer di dalam kegiatan yang tidak dibayar, namun sering bekerja di komunitas. Sementara untuk produk dan fotografi belum berani membuka jasa foto, karena beberapa alasan antara lain mood motret yang naik turun, properti yang terbatas dan kemampuan styling yang belum mumpuni seringnya ATM dari foto orang lain. Ini masih jadi PR buat saya agar kedepannya saya lebih percaya diri mengembangkan passion food dan product photography ini menjadi passion to business dengan membuka jasa foto.Hal yang terpenting, saya masih terus berproses, masa seperti ini masuk ke gaya hidup terdepan . Menjadikan passion menjadi hal yang terdepan. Hal yang terpenting harus tetap semangat mengejar impian sesuai passion, sesuai yang disampaikan Teh Dian (Walikota Hexagonia)

Komentar
Posting Komentar