Langsung ke konten utama

Berbagi Kuas Halal


Celoteh Little Di saat bertemu ayahnya tentang kegiatan charity bersama Ksuper siang tadi.

"Yah, tadi siang seru loh. Aku ikut charity sama teman-teman Ksuper. Bagi-bagi kuas gitu ke pedagang yang pakai kuas kayak yang jual papeda, pukis, takoyaki."
" Oh ya, di mana Nak?" tanya Ayah
"Di sekitar Mesjid Nurusaalam."
"Kenapa gitu dibagi-bagi kuasnya?" 
"Kuasnya kan kayak bulu gitu ya Yah, itu khawatir dari bulu babi. Iyakan Bun?"
 "Iya Nak, lebih baik pakai yang bahannya dari Silikon. Insya Allah lebih aman." 
"Iya Yah, kita harus lebih berhati-hati." timpal Little Di

******************************************************************

Tema charity Komunitas Ksuper kali ini memang unik, diawali dengan kulwap di malam hari sebelumnya tentang kuas yang sering digunakan dalam pembuatan makanan oleh Teh Meili Amalia dari my halal kitchen. Besoknya anak-anak melakukan kegiatan bagi-bagi kuas ke penjual makanan disekitar mesjid Nurussala.

Sebelum keliling mencari pedagang, anak-anak dikumpulkan untuk diberi kuas dan pengarahan. Mereka diajarkan cara menyampaikan pesan kepada para penjual. Di sini mereka dilatih keberanian, public speaking dan argumentasi. 



Mengapa demikian?  

Fakta di lapangan, respon para penjual tidak semuanyalangsung menerima dengan baik. Penolakan di awal terjadi dikarenakan beberapa alasan antara lain, mereka tidak tahu bahwa kuas yang biasa dipakai subhat, mereka merasa tidak cocok dengan bentuk kuasnya dan belum terbiasa menggunakannya. Namun hal yang paling utama dari penolakan tersebut adalah mereka takut disuruh membeli kuas tersebut. Padahal kuas yang kami berikan adalah gratis. 



Ini adalah pengalaman menarik bagi Little Di, walau dia sendiri belum berani mengedukasi abang penjual makanan. Dia hanya menyimak, sedikit menimpali, dan bagian yang memberikan kuas. Namun dia terlihat happy, matanya berbinar-binar. Minimal  dari kegiatan ini dia belajar cara berkomunikasi dengan orang lain dalam menyampaikan pesan seperti apa. Dia juga jadi belajar tentang kuas yang halal seperti apa, yang subhat seperti apa. Alhamdulillahnya dari charity hari ini dia jadi terisnpirasi untuk menjadikan projek keluarga. Dia minta bunda untuk membeli kuas silikon dan rencananya ingin dibagian ke penjual makanan sekitar rumah. Barakallah ya Nak, semoga projek kecil ini bisa memberikan manfaat orang lain.


#Tantangan10Hari
#Level7 
#Day8
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membuat Tujuan Smart

Bagaimana rasanya jika kita berjalan tanpa tujuan ? Bingung pastinya ya?  Tidak jelas target yang ingin dituju, tidak tahu apa yang diinginkan yang ada hanya membuang-buang waktu dan tenaga. Tentu kita tidak ingin mengalaminya bukan? Karena itu dalam melakukan suatu aktivitas atau kegiatan, ada baiknya kita memiliki tujuan terutama tujuan yang SMART. Tujuan SMART? Sudah pernah dengar dengan istilah itu? Kalau belum mari merapat, kita belajar sama-sama. Kebetulan kita lagi belajar membuat tujuan SMART untuk program yang akan Tim Bunda Piara usung. Apa  itu tujuan SMART? Tujuan yang disusun dengan metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant dan Time-based). Setiap elemen kerangka kerja SMART bekerja sama untuk menciptakan tujuan yang direncanakan dengan cermat, jelas, dan  terukur. Metode ini dipopulerkan oleh George T. Doran sejak tahun 1981. Metode ini menggunakan kerangka sasaran SMART dalam menetapkan batasan dan menentukan langkah-langkah yang perlu diambi...

Menjemput Rezeki dengan Ikhtiar yang Mulia

Malam ini kami isi membaca kisah nyata yang dialami teman bunda saat bertemu dengan dua orang anak usia prebaligh yang mengemis dengan cara ngesot. Saat ditanya uang hasil mengemis untuk apa, mereka menjawabnya untuk jajan. Mendengar semua itu, teman bunda menawarkan memberikan pekerjaan yang tidak berat hanya bungkus-bungkus dengan durasi dua jam. Mereka nanti dibayar Rp. 50.000, uang transport diganti dan juga akan diberi makanan. Sehingga uang honornya bisa ditabung untuk keperluan lain. Tanpa berpikir lama, mereka menjawab tidak mau. Malas kalau harus bekerja dulu, mereka lebih memilih mengemis saja.  Tujuan Bunda membacakan kisah ini adalah ingin melihat reaksi Little Di bagaimana? Bagaimana pendapatnya. Little Di berpendapat tidak baik mengemis seperti itu, lebih baik bekerja untuk mendapatkan uang. Alhamdulillah dia telah bisa menilai mana yang baik dan mana yang kurang baik. Minimal dia paham konsep mengemis itu tidak baik, bekerja lebih baik. Walaupun rezeki man...

Scale Up Impact

MasyaAllah tiba di penghujung kelas Bunda Shaliha. Puji syukur alhamdulillah, saya bisa meneruskan sampai tahap ini. Sebuah pencapaian luar biasa, dengan izin Allah bisa melalui tahapan-tahapan di Bunda Shaliha.  Materi 8 semacam refleksi mengikuti Kelas Bunda Shaliha, sementara tugas yang harus dilakukan adalah membuat video perjalanan tim dan penilaian terhadap diri apakah sudah pantas lulus kelas Bunda Shaliha. Tugas pertama perjalanan tim Bunda Piara, maka kita flash back terlebih dahulu ke awal mula pembentukan tim. Diawali dengan menentukan problem statemen yang sedang dialami. Setelah itu mencari tim dengan cara membuat video kampanye yang tujuannya open recruitmen tim. Alhamdulillah, dari iklan yang dilakukan ada 5 orang yang tertarik. Namun dua diantaranya mengundurkan diri karena beberapa pertimbangan. Dari tiga anggota tim, satu diantaranya berasal dari mahasiswi Bunda Shaliha, dan dua diantaranya member Ibu Profesional. Bersama tim kami lalu menentukan problem statemen ...